“Main game bisa dapat duit puluhan juta per bulan!” Kalimat ini sering kamu dengar, tapi apakah benar semua pro player esports di Indonesia seberkah itu? Atau jangan-jangan cuma segelintir nama besar aja yang cuan, sementara sisanya masih struggle?
Industri esports di Indonesia memang sedang booming. Turnamen bertebaran, tim-tim profesional bermunculan, dan media sosial penuh dengan konten gaming. Tapi di balik gemerlap layar dan sorak sorotan penonton, realita gaji pro player esports itu nggak sesederhana yang dibayangkan. Ada yang bisa beli mobil mewah, ada juga yang masih sambil kerja part-time.
Di artikel ini, kita akan kupas tuntas 10 fakta seputar gaji pro player esports di Indonesia—mulai dari angka nominalnya, sumber income tambahan, sampai tantangan yang mereka hadapi. Siap lihat realitanya? Let’s get real!
1. Gaji Bulanan Pro Player Bervariasi dari Jutaan hingga Puluhan Juta
Gaji pro player esports di Indonesia sangat bervariasi tergantung tim, game yang dimainkan, prestasi, dan popularitas pemain. Pro player di tim tier 1 seperti RRQ, EVOS, Bigetron, atau Alter Ego bisa mendapat gaji bulanan Rp10 juta hingga Rp50 juta atau bahkan lebih untuk pemain superstar.
Sementara pemain di tim tier 2 atau tier 3 biasanya mendapat gaji Rp3 juta hingga Rp10 juta per bulan. Bahkan ada tim kecil yang cuma bisa kasih gaji di bawah UMR atau bahkan sistem bagi hasil dari prize turnamen saja—tanpa fixed salary.
Kesenjangan ini cukup besar, mirip seperti di dunia sepak bola: pemain Persib atau Persija dibayar puluhan juta, sementara pemain Liga 3 mungkin cuma dapat jutaan atau bahkan sukarela. Jadi, jangan tergiur dengan angka-angka bombastis di media—realitanya nggak semua pro player hidup mewah. Kebanyakan masih harus kerja keras dan konsisten berprestasi untuk naik kelas.
2. Prize Money Turnamen Bisa Lebih Besar dari Gaji Bulanan
Salah satu sumber income terbesar pro player adalah prize money dari turnamen. Turnamen besar seperti MPL (Mobile Legends Professional League), PMPL (PUBG Mobile Pro League), atau turnamen internasional bisa menawarkan total hadiah miliaran rupiah.
Misalnya, juara MPL Indonesia bisa dapat Rp1-2 miliar yang dibagi untuk tim (biasanya 5-7 orang plus coaching staff). Artinya, setiap pemain bisa dapat ratusan juta rupiah dalam satu turnamen—jauh lebih besar dari gaji bulanan.
Tapi ini bukan passive income. Untuk menang turnamen, tim harus latihan keras, punya strategi matang, dan bersaing dengan puluhan tim lain. Dan yang pasti, nggak semua turnamen bisa dimenangkan. Kalau performa turun atau kalah di awal bracket, ya pulang tanpa hadiah. Jadi, prize money ini sifatnya bonus besar tapi nggak konsisten—beda dengan gaji bulanan yang stabil.
3. Endorsement dan Sponsorship Jadi Sumber Income Utama
Buat pro player yang populer, endorsement dan sponsorship bisa jadi sumber income yang lebih besar dari gaji dan prize money. Brand-brand gaming gear, minuman energi, telekomunikasi, hingga fashion berlomba-lomba gandeng pro player sebagai brand ambassador.
Bayaran endorsement bervariasi: pemain dengan followers ratusan ribu bisa dapat Rp5-20 juta per endorsement, sementara superstar dengan jutaan followers bisa dapat puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk kontrak jangka panjang.
Contoh nyata: pemain seperti Lemon (RRQ), Luxxy (EVOS), atau Zuxxy (Bigetron) punya banyak deal endorsement karena popularitas mereka di media sosial. Tapi ini privilege untuk pemain yang punya personal branding kuat—bukan semua pro player bisa dapet endorsement gede. Pemain yang kurang eksposur atau nggak aktif di medsos biasanya susah dapat tawaran bagus.
4. Content Creator sebagai Side Hustle yang Menguntungkan
Banyak pro player yang juga jadi content creator di YouTube, TikTok, atau live streaming di Facebook Gaming/Nimo TV. Ini adalah double income strategy yang sangat efektif.
Revenue dari content creation bisa dari berbagai sumber: iklan YouTube (AdSense), donasi live streaming, subscription member, dan paid partnership. Pro player yang rajin streaming bisa dapat Rp10-50 juta per bulan dari content creation saja—terkadang lebih besar dari gaji tim mereka.
Keuntungan jadi content creator: income stream tambahan, build personal brand, dan engage dengan fans. Tapi kelemahannya, butuh konsistensi dan waktu ekstra. Nggak semua pro player bisa balance antara latihan keras untuk kompetisi dan bikin konten. Beberapa tim bahkan membatasi aktivitas streaming pemainnya agar fokus ke turnamen.
5. Kontrak Kerja Bervariasi: Ada yang Fix Salary, Ada yang Profit Sharing
Sistem kontrak pro player nggak seragam di Indonesia. Tim besar biasanya kasih fixed salary per bulan plus bonus prestasi dan bagi hasil prize money. Tapi tim kecil atau baru berdiri sering pakai sistem profit sharing—artinya pemain cuma dapat bagian dari prize money kalau menang turnamen.
Ada juga model hybrid: gaji kecil (Rp3-5 juta) sebagai basic income, lalu bonus besar kalau menang turnamen atau dapat sponsor. Model ini lebih berisiko untuk pemain, karena income nggak stabil dan sangat bergantung pada performa tim.
Pemain profesional yang serius biasanya menuntut kontrak yang jelas dan tertulis: berapa gaji, pembagian prize money, hak cuti, fasilitas yang diberikan (gaming house, PC, meals), dan durasi kontrak. Sayangnya, nggak semua tim punya manajemen profesional—masih banyak tim yang kontraknya cuma lisan atau nggak transparan. Ini yang bikin banyak drama pemain pindah tim atau sengketa dengan manajemen.
6. Fasilitas Gaming House dan Peralatan Premium Jadi Benefit Tambahan
Selain gaji, pro player di tim besar biasanya dapat fasilitas gaming house—tempat tinggal bersama yang dilengkapi gaming setup mewah, internet super cepat, ruang latihan, dan kadang ada chef atau staff yang ngurus kebutuhan sehari-hari.
Nilai fasilitas ini nggak sedikit. Bayangkan: sewa rumah, listrik, internet, makan sehari-hari, dan gaming gear premium (PC/laptop high-end, monitor 240Hz, mechanical keyboard, gaming mouse, headset) bisa senilai puluhan juta rupiah per tahun. Ini adalah hidden benefit yang sering nggak dihitung tapi sangat berharga.
Tim tier 1 bahkan sediakan coach, analyst, manager, dan support staff profesional yang bantu pemain fokus 100% ke performa. Pemain nggak perlu mikirin urusan domestik—cukup fokus latihan dan turnamen. Beda dengan pemain di tim kecil yang harus urus semuanya sendiri: dari bikin konten, cari sponsor, sampai masak sendiri.
7. Durasi Karir Relatif Pendek: Peak Performance di Usia 18-25 Tahun
Salah satu realita pahit di dunia esports adalah durasi karir yang pendek. Kebanyakan pro player mencapai peak performance di usia 18-25 tahun—setelah itu, refleks mulai menurun, stamina mental nggak sekuat dulu, atau kalah bersaing dengan pemain muda yang lebih hungry.
Ini berarti jendela untuk cuan besar cuma sekitar 5-7 tahun. Setelah itu, banyak yang pensiun atau pindah jadi streamer, coach, analyst, atau coba bisnis sendiri. Nggak banyak pemain yang bisa sustain karirnya lebih dari 10 tahun seperti atlet olahraga tradisional.
Makanya, pro player yang smart sudah mikirin long-term plan sejak awal: nabung, investasi, atau bangun personal brand kuat sehingga bisa pivot ke content creation atau bisnis setelah pensiun. Yang nggak prepare biasanya struggle—duitnya habis, skillnya nggak transferable ke pekerjaan lain, dan akhirnya harus mulai dari nol lagi di usia yang nggak muda.
8. Tekanan Mental dan Tuntutan Performa Sangat Tinggi
Jadi pro player bukan cuma main game enak-enakan. Tekanan mental dan fisik sangat besar: latihan 8-12 jam per hari, ekspektasi tinggi dari tim dan fans, persaingan ketat dengan pemain lain, dan risiko di-bench atau di-kick kalau performa turun.
Banyak pro player yang burnout, depresi, atau kecanduan—bahkan ada yang pensiun dini karena mental health issues. Gaji besar nggak berarti hidup bahagia kalau setiap hari kamu di bawah tekanan luar biasa dan kehilangan waktu untuk kehidupan sosial normal.
Belum lagi toxic community: kritik pedas di media sosial, cyberbullying, atau hate speech kalau tim kalah. Nggak semua orang bisa handle tekanan ini. Pro player yang sukses biasanya punya mental yang kuat, support system yang baik (keluarga, teman, manajemen), dan work-life balance yang dijaga. Jadi, sebelum bermimpi jadi pro player, pastikan kamu siap dengan semua konsekuensi mental dan emosionalnya.
9. Ada Risiko Tidak Punya Jaminan Hari Tua seperti BPJS Ketenagakerjaan
Berbeda dengan pekerjaan formal, banyak pro player yang nggak punya jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, atau dana pensiun. Apalagi kalau mereka kerja di tim kecil atau nggak punya kontrak formal.
Ini adalah red flag besar. Kalau kamu sakit, kecelakaan, atau pensiun tiba-tiba, nggak ada safety net. Semua biaya harus ditanggung sendiri dari tabungan—kalau ada. Banyak pemain muda yang terlalu fokus cari duit jangka pendek dan lupa prepare jangka panjang.
Pro player yang profesional biasanya sudah urus asuransi pribadi, investasi, atau even bikin CV (Commanditaire Vennootschap) atau PT untuk proteksi legal dan finansial. Sayangnya, financial literacy di kalangan gamer masih rendah—banyak yang habis-habisan buat lifestyle atau barang-barang konsumtif tanpa mikirin masa depan. Edukasi finansial adalah hal penting yang harus lebih sering dibahas di industri esports Indonesia.
10. Industri Esports Makin Berkembang, Peluang Income Makin Luas
Kabar baiknya, industri esports di Indonesia terus tumbuh pesat. Sponsor makin banyak, turnamen makin besar hadiahnya, viewership di platform streaming meningkat, dan pemerintah mulai support esports sebagai industri kreatif.
Peluang income untuk pro player kini nggak cuma dari gaji dan turnamen, tapi juga merchandise, NFT, metaverse, exclusive content di platform subscription, bahkan brand kolaborasi. Beberapa pemain bahkan bikin bisnis sendiri: agency talent, produk gaming, atau investasi di startup gaming.
Proyeksi ke depan sangat positif: esports bisa jadi karir yang sustain dan menguntungkan kalau dikelola dengan baik. Tapi ingat, hanya mereka yang serius, profesional, dan punya long-term vision yang akan bertahan. Yang cuma ikut-ikutan hype tanpa persiapan matang biasanya cepat tenggelam dan kembali jadi gamer biasa.
Kesimpulan
Gaji pro player esports di Indonesia memang menjanjikan, tapi nggak sesempurna yang terlihat di permukaan. Ada yang sukses dan bisa hidup mewah, tapi ada juga yang masih struggle dengan gaji pas-pasan dan future yang uncertain.
Kunci suksesnya: prestasi konsisten, personal branding kuat, diversifikasi income (endorsement, content creation, bisnis), dan persiapan jangka panjang. Kalau kamu serius mau jadi pro player, jangan cuma fokus main game—tapi juga belajar bisnis, finansial, dan networking.
Industri esports punya peluang besar, tapi juga kompetisi yang keras. Only the best and the smartest will survive and thrive. Jadi, apakah kamu siap dengan semua realita ini?
Kamu punya pengalaman atau pandangan lain tentang gaji pro player esports? Share di kolom komentar! Dan kalau artikel ini bermanfaat, jangan lupa bagikan ke teman-teman yang pengen tahu lebih dalam tentang industri esports. Stay competitive!